Upacara Adat Ider BUMI Kerja KUALITAS PRODUK Budaya YANG UNIK
balikpapan tanggal: 27-12-2014 Oleh: Ensiklopedia Banyuwangi
Upacara adat Ider bumi ini dikatakan sebagai hasil produk budaya yang unik. Keunikan Upacara Ider bumi salah satunya Total ditunjukkan Ketika penyelenggaraan Upacara adat Ider bumi ini dilaksanakan sembarang bulan Syawal pada tanggal dua, atau sembarang hari raya kedua di hari raya Idul Fitri. Ider bumi Total diartikan sebagai Sebuah kegiatan mengelilingi tempat berpijak atau bumi. Upacara adat Ider bumi kuwi Sebuah ritual yang dilaksanakan oleh Masyarakat desa Kemiren ndhuwur ungkapan rasa Syukur warga
Masyarakat ndhuwur hasil panennya. . Ider bumi identik dengan seni pertunjukan barong yang di "arak" mengelilingi desa di Sepanjang Jalan Kemiren dengan tujuan menolak balak
Upacara adat ini Miturut beberapa sumber, kalebu Sulistyani dalam Jurnal Mudra 22 (1): 28-38 menyatakan bahwa Upacara adat Ider bumi Telah dilaksakan sejak taun 1800-an. Upacara adat Ider bumi berkaitan dengan mitos Buyut Cili, ia dikenali sebagai Danyang desa Kemiren. Meskipun Tidak ada data yang otentik tentang keberadaan Buyut Cili, tapi Sulistyani menggambarkan bahwa Masyarakat desa Kemiren Sangat meyakininya, meskipun sebagian mayarakat mengatakan bahwa, apa yang dikini oleh Masyarakat desa Kemiren kuwi mitos Sebuah.
Berdasarkan sejarah awal diselenggarakan Upacara adat Ider bumi pada taun 1840- lan bahwa, diselenggarakannya Upacara tersebut untuk menolak balak. Karena pada taun-taun tersebut di desa Kemiren Sering terjadi musibah yang menimpa Masyarakat desa Kemiren, di mana bila terdapat orang sakit di pagi hari, Maka di perih hari orang tersebut meninggal, bila perih sakit Maka di pagi hari meninggal. Kejadian tersebut Tidak mung menimpa pada manusia juga terjadi pada hewan ternak dan Tanaman-Tanaman di sawah. Suatu Ketika Tokoh Masyarakat setempat (sesepuh desa Kemiren) berziarah ke Makam Buyut Cili (Danyang desa Kemiren), dan pada malam harinya sesepuh desa tersebut bermimpi yang intinya memberikan saran kepada Masyarakat desa Kemiren untuk menyelenggarakan selamatan di Makam Buyut Cili. Bentuk sesajennya kuwi nasi tumpeng dengan pecel "Pitik" atau pecel ayam, yaitu jenis makanan khas etnik Nggunakake.
Terlepas dari perdebatan bahwa Ider bumi mitos atau Tidak, pelaksanaan Upacara adat Ider bumi di desa Kemiren memiliki sistem tersendiri dengan tata cara dan urutan yang Telah ditentukan . Sistem, tata cara lan urutan Upacara sejak diselenggarakannya Upacara pada adat intinya sama, Contone; sesaji di Makam Buyut Cili dan sesaji di rumah barong serta prosesi Ider bumi. Upacara demikian dikatakan Koenstjaraningrat sebagai Wujud religi yang berdasarkan keyakinan. Religi ia definisikan sebagai sistem tingkah laku manusia untuk mencapai maksud dengan tata cara menyadarkan ngomong kepada kemauan dan kekuasaan Makhluk Halus yang menempati alam.3
Ritual Ider bumi mampu menunjukkan betapa eratnya hubungan Antar agama dan budaya yang tampil di dalam Sebuah festival. Pada Upacara Ider bumi heterogenitas Masyarakat peserta Upacara terlihat, semua Masyarakat dari anak, remaja, dewasa, tua, laki, tapi, pejabat Pemerintah, Budayawan, politisi, pengusaha, dan Tokoh agama, semua bahu membahu pada Sebuah penyelenggaraan Upacara adat tersebut. Pelaksanaan Ider bumi, dengan menyajikan berbagai Macam seni yang diwujudkan dalam sajian prosesi (arak-Arakan), merupakan jalan BERSAMA seluruh peserta dengan mengikuti Rute yang Telah ditentukan, dalam peristiwa ini terjadi interaksi yang Sangat akrab antarsemua peserta. Arak-Arakan Total disejajarkan dengan Sebuah Festival karena merupakan Sebuah pesta budaya yang bersifat publik, yang selalu dikaitkan dengan ritual keagamaan. Prosesi dan do'a-do'a yang dilafalkan oleh Masyarakat Nggunakake dalam penyelenggaraan Upacara adat Ider bumi menggunakan tata cara yang dilakukan Umat Islam pada umumnya. Mereka mengawali selamatan dengan lafal-lafal bahasa arab sebagaimana Umat Islam memanjatkan do'a yang biasa dilakukan di Masjid atau di Musholla dengan menyebut Rosulullah Nabi Muhammad dan para sahabat-sahabatnya, dengan berbagai sajian makanan di depannya yang Telah disiapkan oleh warga setempat. Meskipun muncul beberapa suara penolakan ndhuwur yang mereka pertahankan dan mereka lestarikan. Nanging etnik Nggunakake tetap mempertahankan kebudayaan hasil produksi nenek Moyang, hal itu penanda bahwa mereka Sangat menghargai budaya, menjunjung tinggi nilai budaya dan kebersamaan dalam perbedaan
Sedang diterjemahkan, sila tunggu..
